Apakah Kanker Serviks Bisa Sembuh

Apakah penderita kanker serviks bisa diobati sampai sembuh
Berapa Tahun Penderita Kanker Serviks
Bisa Bertahan Hidup ?

Apakah penderita kanker serviks bisa diobati sampai sembuh ? Pertanyaan ini akan selalu muncul mengingat setiap hari ditemukan lebih 40 wanita di Indonesia menderita kanker serviks, separuh diantaranya meninggal dunia


Sebagai salah satu dari jenis kanker ganas, Kanker serviks menjadi penyakit yang cenderung mengakhiri penderitaan korbannya dengan kematian. Padahal di Indonesia setiap hari ditemukan lebih dari 40 wanita yang menderita kanker serviks, sebagian besar yaitu sekitar 55% diantara mereka berakhir dengan kematian. Tidak heran jika kemudian kanker serviks dijuluki sebagai “pembunuh wanita nomor satu”

Karena itu sering muncul pertanyaan, apakah kanker serviks bisa disembuhkan sehingga kondisi penderitanya pulih seperti sediakala ?  Maka jawabannya akan dikembalikan kepada kondisi pasien, yakni seberapa parah atau pada stadium berapa saat terdeteksi dan mulai melakukan pengobatan. Sehingga tingkat kesembuhan penderita berbanding secara paralel dengan tingkat keparahan yang dialaminya saat melakukan pengobatan.

Penderita kanker yang diakibatkan oleh infeksi Human Papiloma Virus atau virus HPV ini bisa disembuhkan 100 persen. Tetapi hal itu hanya bisa terjadi jika kanker serviks ditemukan pada stadium awal saat dilakukan deteksi dini. Karena itu kalangan medis gencar mensosialisasikan pentingnya deteksi dini oleh para wanita agar risiko kematian akibat kanker leher rahim semakin kecil.

Prosentase sebesar 75 sampai 90 persen angka kematian pada penderita kanker leher rahim disebabkan penyakit ini terdeteksi ketika sudah berada dalam stadium lanjut. Pada saat itu sel-sel kanker sudah terlalu menyebar sehingga lebih sulit untuk melakukan pengobatan. Dampaknya tidak hanya itu, biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan pun menjadi lebih mahal.

Apakah penderita kanker serviks bisa diobati sampai sembuh
Perkembangan sel-sel kanker yang menentukan stadium kanker serviks.

Berdasarkan penanganan medis yang telah dilakukan terhadap para penderita kanker serviks, jika kanker ini diketahui dan diobati pada stadium 1 maka harapan hidup 5 tahun atau 5 Years Survival Rate bagi penderita adalah 70-75 persen. Penanganan pada pasien kanker serviks yang telah berada dalam stadium 2 menurun menjadi 60 persen.

Sementara itu harapan hidup 5 tahun untuk penderita kanker serviks stadium 3 menjadi semakin kecil, yakni hanya tinggal 25 persen. Pasien dengan kanker serviks stadium 4 umumnya sulit untuk diharapkan bisa bertahan hidup, upaya yang dilakukan adalah pengobatan yang bersifat mengurangi rasa sakit pasien.

Meskipun pada prinsipnya prosentase harapan hidup penderita kanker serviks tergantung pada stadium kanker, status kesehatan pasien dan intensitas penanganannya, tetapi juga terdapat beberapa faktor lain yang ikut menentukan. Misalnya, harapan hidup 5 tahun untuk penderita kanker serviks stadium awal setelah dilakukan operasi pengangkatan seluruh jaringan rahim (histerektomi radikal) dan operasi pengangkatan seluruh jaringan kelenjar getah bening daerah panggul (limfadenektomi pelvis) masih bergantung pada beberapa faktor berikut :

Penderita yang memiliki tumor berukuran kurang dari 2 cm memiliki harapan hidup 5 tahun sebesar 90 persen. Tetapi jika ukurannya lebih dari 2 cm maka prosentase harapan hidup 5 tahunnya akan menjadi 60 persen. Semakin besar ukuran tumornya, lebih dari 4 cm, prosentase survival rate pun semakin turun menjadi 40 persen.

Jika invasi atau serangan sel kanker serviks kurang 1 Cm dari permukaan mulut rahim, maka penderita memiliki harapan hidup 5 tahun atau 5 years survival rate sekitar 90 persen. Tetapi jika kedalaman invasi itu lebih dari 1 Cm, survival ratenya pun akan turun menjadi 63 hingga 78 persen.

Invasi sel kanker ke jaringan parametrium juga menjadi faktor yang ikut menentukan prosentase harapan hidup 5 tahun. Jika tidak terjadi invasi kanker ke parametrium, maka penderita akan memiliki harapan hidup 5 tahun sebesar persen.  Berbeda halnya apabila ditemukan invasi sel kanker ke jaringan parametrium, maka prosentase harapan hidup 5 tahun pasien akan menurun menjadi sekitar 69 persen. Peluang ini akan semakin kecil jika sel kanker juga menginvasi kelenjar getah bening, yakni hanya sekitar 39-42 persen.

Faktor yang ikut menentukan harapan hidup 5 tahun pasien juga ditentukan oleh status kelenjar getah bening. Apakah sel kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening atau tidak, jika pada kelenjar getah bening tidak ditemukan penyebaran sel kanker, maka harapan hidup penderita cukup tinggi, yakni antara 85 hingga  90 persen.

Sebaliknya, jika ditemukan penyebaran sel kanker ke kelenjar getah bening, maka harapan hidup penderita akan menurun antara 20 sampai 74 persen. Rentang prosentase tersebut ditentukan oleh lokasi, jumlah dan intensitas sel-sel kanker yang telah menyebar ke kelenjar getah bening penderita.

Metode yang paling sering digunakan untuk pengobatan kanker serviks adalah bedah pengangkatan rahim atau histerektomi. Setelah menjalani operasi ini, wanita yang bersangkutan tidak akan mempunyai anak, sehingga beberapa penderita kanker serviks yang masih ingin memiliki anak merasa enggan untuk menjalani histerektomi.

Pembedahan tersebut dilakukan sesuai dengan stadium kanker serviks yang dialami oleh penderita. Untuk penderita kanker serviks stadium 1 dilakukan pengangkatan rahim, kedua ovarium dan tuba falopi. Histerektomi tidak hanya dilakukan dengan sayatan besar, tetapi bisa juga dilakukan lewat operasi yang hanya membutuhkan beberapa sayatan kecil yang dikenal dengan istilah histerektomi laparoskopi.

Pembedahan yang dilakukan terhadap penderita kanker serviks stadium 2 dan 3 selain melakukan pengangkatan rahim, kedua ovarium dan tuba falopi, juga pengangkatan serviks dan vagina bagian atas. Sedangkan untuk penderita kanker serviks stadium 4, operasi pengangkatan kanker dilakukan semaksimal mungkin tetapi bukan bertujuan untuk menyembuhkan, melainkan untuk mengurangi seoptimal mungkin rasa sakit yang diderita pasien.

Setelah pasien selesai menjalani operasi akan dilakukan terapi lanjutan untuk meminimalkan resiko munculnya kembali kanker serviks. Terapi lanjutan tersebut dilakukan dengan pengobatan radioterapi atau kemoterapi. Pengobatan ini tidak hanya diterapkan pada pasien seusai menjalani operasi, tetapi juga terhadap pasien yang kondisi tubuhnya tak memungkinkan menjalani operasi pengangkatan rahim.

Tetapi proses perawatan lanjutan dengan metode pengobatan radioterapi menimbulkan beberapa efek samping pada pasien. Umumnya efek tersebut berupa pendarahan pada rektum dan kulit pada bagian yang diobati menjadi merah dan perih. Efek samping tersebut akan segera hilang setelah terapi dihentikan.

Sedangkan kemoterapi biasanya diterapkan untuk penderita kanker rahim stadium 3 atau 4, prosesnya dilakukan secara bertahap dan diberikan  melalui infus. Kemoterapi juga bertujuan untuk menghambat penyebaran sel-sel kanker dan mengurangi gejala sakit pada penderita. Tidak berbeda dengan radioterapi, selama berlangsungnya proses kemoterapi, penderita akan mengalami beberapa efek samping yang umumnya berupa rambut rontok, kelelahan, mual, dan muntah-muntah.

Terapi lain yang digunakan pada penderita kanker serviks stadium lanjut adalah terapi hormon. Terapi ini dilakukan dengan pemberian hormon progesteron artifisial dalam bentuk tablet untuk menggantikan hormon progesteron alami tubuh. Terapi hormon bertujuan untuk mengecilkan tumor serta mengendalikan gejala yang dialami penderita. Tidak berbeda dengan terapi lanjutan lainnya, terapi ini juga menimbulkan efek samping berupa  kram otot, mual-mual dan bertambahnya berat badan.

Serangan kanker serviks yang terdeteksi di saat sudah berkembang ke stadium lanjut tidak hanya bisa berakibat mengubah jalan hidup penderitanya. Juga akan menimbulkan dampak sosial yang dialami oleh keluarga pasien dimana situasi keluarga menjadi kacau, semua aktivitas anggota keluarga menjadi terganggu dan mengalami stress berkepanjangan, keuangan keluarga menjadi habis-habisan. Ironisnya, proses pengobatan yang kurang dilakukan secara intensif karena keterbatasan biaya ini pada akhirnya mengakibatkan pasien semakin parah dan meninggal dunia.